Saturday, February 04, 2006
T3-4M adalah suatu tehnik pembelajaran yang menitik beratkan pada bagaimana caranya melaksanakan "Pelatihan untuk Pelatih" yang dapat dilakukan secara cepat dan tidak bertele-tele serta memasukkan upaya untuk menghilangkan "Sindroma Guru-Silat".
Apakah yang dimaksudkan dengan sindroma guru-silat tersebut ? Pada kebanyakan proses pembelajaran seperti yang diberikan oleh seorang guru silat kepada muridnya sering kali jika sang guru memiliki ilmu 10, sang murid pada gilirannya hanya menerima maksimum 7 atau 8 saja dari yang dimiliki sang guru.
Pada buku-buku (komik silat) seperti halnya karangan Kho Ping Hoo nyata sekali fenomena guru-silat tersebut selalu dijadikan upaya penghentian cerita oleh sang penulis. Pada saat seorang guru menurunkan 100% ilmu simpanannya kepada katakanlah 2 (dua) orang murid terbaiknya maka itu berarti tamat pulalah episode cerita sang guru tersebut, selanjutnya akan diteruskan dengan episode baru perihal sang murid baik dan jahat dimana sang murid jahat akhirnya membunuh sang guru yang pada gilirannya menjadi musuh besar sang murid baik dikalangan dunia "Kangouw".
Dalam kenyataannya baik dikalangan "Scholars", kalangan "Manajemen Pendidikan di Indonesia" maupun didunia "Occupational" dan "Workplace" seringkali kita lihat (perhatikan) tidak jarang (pada kenyataannya mencapai 90%) pelatihan-pelatihan TOT atau Training of Trainers hanyalah suatu upaya pertunjukan panggung biasa yang memberikan kesan dan impressi mendalam kepada participants hanya pada saat pelatihan tersebut berlangsung.
Kepiawaian seorang "Master-Trainer" pada saat berlangsungnya pelatihan, yaitu dengan mengambil bahan-bahan pelatihan dari berbagai sumber dan diberikan resumenya dan disajikan kepada participants pada dasarnya tidak memberikan peluang kepada peserta latih untuk mengeksplorasi lebih jauh sumber-sumber bacaan sebagaimana yang menjadi acuan Master-Trainer pada saat pelatihan berlangsung.
T34M sejatinya menghilangkan sindroma guru-silat tersebut hingga 90%, beberapa prekondisi yang diperlukan dalam melaksanakan T3-4M antara lain,
- Ruangan pelatihan yang terhubung dengan Internet
- Setiap peserta minimum haruslah memiliki email dan terbiasa dengan internet
- Pelatih (Master-Trainer) harus mempersiapkan > 70% bahan pelatihannya bersumber dari internet juga
- Pelatih haruslah menguasai internet secara baik, kalau bisa buat web sederhana akan lebih baik
Contoh rancangan T3-4M ini selama 1 (satu) hari saja bisa di lihat sebagaimana contoh berikut,
- Sessi 1 terdiri dari penjelasan tentang "cognitive style" MBTI, dan pemilihan metode ini ketimbang "Multiple Intelligence".
- Sessi 2 adalah self-assessment dan penjelasan lebih lanjut perihal style yang berbeda pada masing-masing peserta latih.
- Sessi 3 dilanjutkan dengan aplikasi "Style" yang berbeda tersebut pada "Learning-Style" dan "Learning-Method", khususnya pada konsep "adult-learning".
- Studi kasus, diskusi dan wrap-up.
Saya mengajak rekan-rekan yang memiliki visi yang sama perihal pemberdayaan ini (khususnya para trainer) untuk menyumbangkan ilmu dan kemampuannya untuk ikut dalam mengembangkan kemampuan rekan-rekan lainnya diluar sana untuk dapt meningkatkan diri mereka sehingga menjadi benar-benar "Professional" dibidangnya.
Saya dan rekan-rekan lainnya yang bersedia untuk memberikan pelatihan dikmaksud tentunya tidak akan dibayar, namun semua fasilitas / tempat dan peralatan yang diperlukan harus disediakan oleh calon peserta latih.
Untuk saat ini yang menjadi sasaran pelatihan antara lain adalah,
- Para guru, pendidik dan dosen (Jenjang D1 s/d D4 hingga S1).
- Alumni Fkip / IKIP dan yang setara dengannya.
Niat ini pada awalnya tergerak karena melihat begitu banyaknya permasalahan dan keluhan para guru, pendidik termasuk para alumni ex IKIP/ FKIP yang selalu berkeluh kesah perihal taraf hidup, dan penghargaan masyarakat terhadap kehidupan mereka.
Saya sendiri sampai saat ini merupakan salah satu orang yang pada dasarnya tidak setuju proses perubahan IKIP menjadi Universitas (katanya sih transformasi), tentu saja merupakan suatu kewajaran juga dimana ada saatnya terjadi kesepakatan untuk tidak bersepakat untuk suatu hal-hal tertentu didalam kehidupan ini.
Kami yang 90% kehidupannya merupakan "practitioners" ketimbang "Scholars" ataupun "Akademisi" seringkali secara tidak sadar memakai rumusan "AFTA" yaitu "action first, talk after" ketimbang "NATO" yang sudah banyak orang tau "no action talk only".
Tapi seringkali juga terjerumus kepada "action 1st think later" ketimbang "think 1st action later", dengan demikian forum ini menyadari kelemahan-kelemahan tersebut sangat membuka diri untuk bersama-sama memberikan sumbangan nya masing-masing dalam pemberdayaan manusia Indonesia sebaik-baiknya.
T3-4M merupakan bagian dari (e)RLeaPro yaitu (e) Resources Learning Program yang di rancang karena kebutuhan-kebutuhan mendesak, tempat terpencil, dan resources accessibilities yang baik.
Labels: Training
