Tuesday, February 21, 2006

 
From Personal Power 2 Performance

Katakanlah "Performance" sebagai suatu sasaran yang ingin dicapai, maka performance ini (P, ataupun 1P ini)harus dicapai tentunya dengan suatu kekuatan ataupun suatu daya yang dianggap mampu mencapai itu. Daya itu untuk orang perseorangan bisa dinamakan dengan "Personal Power" atau dengan kata lain kita sebutlah hal itu 2P.

Selanjutnya 2P ini yang merupakan energi yang membuat seseorang dapat mewujudkan impian-impiannya tidak dengan mudah terjadi seperti main sulap saja, melainkan harus dikejar dengan suatu sikap dan pola fikir yang menjadikannya terjadi sebagai suatu habit.

Habit yang harus dipersiapkan adalah bagaimana seseorang dapat memanajemeni dirinya sendiri dalam takaran waktu yang sesuai (time-frame) antara lain adalah apa yang disebut 3P (Point of focus, Priority,dan terakhir Procrastination). "Point of focus" adalah kemampuan seseorang untuk tetap focus pada sesuatu yang dituju khususnya dalam kerangkan pemasaran, tidak akan sasaran dapat dituju apabila tidak focus pada sasaran (yang jelas). Selanjutnya "Priority", hal ini harus juga menjadi habit pada multi tasking, khususnya semua kegiatan diluar kerangka pemasaran, jadi harus selalu berorientasi tidak mendesak tapi penting, "not urgent but important". Terakhir adalah "Procrastination", banyak penjelasannya tapi yang terpenting adalah kerjakan hari ini apa yang bisa dikerjakan besok .. dan seterusnya.

Untuk menuju ke habit dalam artian self management tersebut (3P), diperlukan pendekatan kepada lingkungan sebaik-baiknya dengan pendekatan 4P yaitu "Power", "People", "Pace" dan "Procedure", teori ini sebenarnya ada pada pendekatan "DISC behavioral concept" artinya keempat bawaan badan dari berbagai karakteristik tersebut haruslah didekati dengan cara yang dianggap mereka senyaman , selaras sesuai dengan selera mereka.

Labels:


Sunday, February 19, 2006

 
“Bola salju” pengangguran di Indonesia !
( Cerminan pemberdayaan negatip )


Nilai, harga dan biaya SDM

Kata-kata “Menganggur”, “PHK” ataupun yang senada dengan itu seperti “Di-rumahkan” serta “Pensiun-dini” kini bukan lagi merupakan kata-kata yang menggemparkan Indonesia. Kata-kata tersebut kali ini sudah menjadi bagian hidup sehari-hari dan sangat akrab dengan sebagian besar angkatan kerja kita. Kondisi ini memberikan arti bahwa pada kenyataannya hal tersebut sudah menjadi bagian hidup sehari-hari (bukan lagi dianggap masalah), dan satu lagi yang pasti adalah, Indonesia sudah sampai pada lingkaran setan ”ledakan pengangguran !”.

Menurut ilmu ekonomi (yang entah mengapa selalu diminati mahasiswa kita), sejak krisis moneter pada tahun 1997-1998 lalu, sumber daya manusia (SDM) kita sejak saat itu memiliki “Intrinsic value” yang “jomplang”, jauh lebih tinggi dibanding “Nominal value” yang labelisasinya dilaksanakan oleh Supply-Demand tenaga kerja. Artinya walaupun seseorang memiliki kompetensi yang baik, namun pasar tenaga kerja hanya dapat memberikan tawaran yang terbaik dari yang terendah. Daya tawar ini pada kenyataannya tidak hanya dipengaruhi kompetensi seseorang tapi juga dipengaruhi oleh koneksi dan kemampuan berkomunikasi secara baik dan benar (verbal, non verbal maupun tertulis).

Sebagai ilustrasi saja, pada akhir tahun delapan puluhan apabila seorang sarjana (S1), bahkan (S2), apabila diterima bekerja dengan tingkat upah (gaji) diatas satu juta rupiah (dibawah dua juta rupiah) maka mereka sudah merasa punya posisi dan level yang berbeda dari kebanyakan sarjana pada umumnya sehingga golongan ini (katanya gaji BASKOM “barisan satu koma”) pastilah memiliki keistimewaan baik dalam hal kompetensi, koneksi maupun cara-cara berkomunikasi secara interpersonal yang dianggap lebih baik. Pada saat itu gaji sebesar dua juta rupiah merupakan tingkatan gaji para manajer.

Kini dua dasa warsa telah lewat sejak kondisi sebagaimana ilustrasi diatas terjadi, apa yang bisa diperoleh seorang tamatan sarjana sebagai gaji pertamanya ? Mengingat tingkat persaingan kesempatan kerja sangat tinggi, dapatlah dipastikan bahwa yang lolos pastilah memiliki kompetensi yang memang baik sekali diantara rekan-rekannya (bahkan sebagian diantara mereka memiliki pengetahuan bahasa, komputer dan internet yang tidak akan dimiliki oleh angkatan yang setara dua dasawarsa sebelumnya). Namun kalau kita tanyakan kepada mereka berapa perusahaan memberikan kompensasi kepada mereka ? Mereka pastilah menjwabnya dengan mengatakan “hanya cukup untuk pulang pergi ke kantor dan makan siang aja Om”.


Sandyakala “Tenaga-kerja” Indonesia

Apakah yang salah sebenarnya dari angkatan kerja kita ? Jika kita salahkan sekolahnya maka berarti bukan mereka (angkatan kerja tersebut) yang salah, jika kita salahkan industri penyerap angkatan kerja tersebut maka sekali lagi bukan salahnya angkatan kerja mengapa mereka diperlakukan dengan sangat tidak adil ?

Mengutip harian kompas, 18 februari 2006 “Pengangguran dan PR yang tak dikerjakan”, mengingatkan kita kembali akan fenomena ini. Kompas merujuk kepada panel ahli ekonomi kompas tanggal 6 februari 2006 yang mendasarkan analisa mereka pada data-data BPS sampai dengan tahun 2005 perihal ketenaga kerjaan di Indonesia ini.

Bayangkan saja, data terakhir menunjukkan pada kita bahwa pengangguran total (terbuka maupun terselubung) jumlahnya 37% atau 40,1 juta orang dari seluruh angkatan kerja kita yang berjumlah 106,9 juta orang, sedangkan pengangguran terbuka berjumlah 10,84% atau 11,6 juta orang dari seluruh angkatan kerja tersebut.

Hal yang menarik disebutkan bahwa 2/3 atau lebih dari 60% dari pengangguran terbuka tersebut berusia antara 15 hingga 24 tahun usianya, jadi kira-kira angkatan kerja yang tamat SLTP, SLTA hingga S1.

Hal yang lebih menyedihkan lagi (bagi angkatan kerja) adalah bahwa sektor manufaktur hanya menyerap 2% dari penyerapan angkatan kerja tersebut, total 30% untuk sektor formal dan sisanya 70% untuk sektor informal.

Akhirnya disebutkan pada analisis tersebut bahwa rasio persen pertumbuhan ekonomi terhadap penyerapan tenaga kerja selalu menurun dari 400.000 orang sebelum tahun 1994 menjadi 375.000 pada tahun 1994, menjadi 215.000 ditahun 2000-2004, akhirnya turun lagi jadi 178.000 setelahnya, padahal pemerintah selalu menggunakan angka 600.000 orang untuk setiap persen pertumbuhan tersebut.


Rakyat bertanya

Secara bodoh saja maka kebanyakan masyarakat dan angkatan kerja kita akan tahu kalau kali ini (saat ini) tidak satupun program pemerintah yang sudah memberikan hasil bagi peningkatan kesempatan kerja tersebut. Program yang paling populer adalah “bantuan langsung tunai” untuk rakyat miskin (yang memiliki kartu miskin). Program ini tidak ada relevansinya bagi peningkatan kesempatan kerja baik jangka pendek maupun jangka panjang, memang sih bisa menjadi peredam kejut juga dengan kondisi kenaikan BBM kemarin.

Upaya-upaya yang mengarah pada peningkatan kesempatan kerja tidak dianggap penting baik oleh menterinya (lagian kementrian tenaga kerja kan tidak punya industri yang dimiliki menteri industri) apalagi oleh kementrian bidang ekonomi yang notabene anak-anak sekolahan (scholars) yang tidak pernah merasakan sulitnya mencari kerja.

Pada posisi barunya belum apa-apa menteri perindustrian (yang tadinya menaker) sudah “dimusuhi” dan dihebohkan perihal TDL oleh Kadin. Apalagi mau ikut memikirkan pekerjaan lembaga yang dulunya dipimpinnya ?

Upaya sosialisasi dan upaya-upaya kampanye dan penggalangan kesempatan kerja (apa saja) tidak lagi diprioritaskan di negeri ini. Menaker yang baru lebih memikirkan kesempatan kerja TKI diluar negeri, bukan didalam negeri. Dalam salah satu beritanya harian kompas (17 februari 2006) menulis “kecil-kecil” di kilas daerah perihal “Prospek mandiri untuk Sarjana Menganggur”, mungkin sebelumnya sudah ditulis tapi tidaklah cukup untuk membuat semua orang menolehkan perhatiannya hingga ikut berpendapat pentingnya memikirkan hal ini.

Nampaknya pemerintah harus lebih realistis lagi dan membuat program sosialisasi dan program kampanye yang menjelaskan arah dan kemungkinan kesempatan kerja yang memang tidak ada itu, dengan demikian masyarakat dan angkatan kerja tidak lagi berangan-angan untuk kerja di pabrik misalnya, ataupun punya keinginan kuat untuk jadi PNS ? Termasuk program sosialisasi yang memberikan “early-warning” bagi para pekerja sektor formal seperti di perbankan, pabrikan, maupun sektor formal lainnya untuk siap-siap dan “leghowo” menerima program “pensiun-dini”, tentunya diimbangi dengan program (diharuskan bagi perusahaan) pelatihan yang mempersiapkan pensiun dini itu.


Siapa memberdayakan siapa ?

Pertama lembaga kepresidenan, selama 30 (tiga puluh) tahun presiden tidak pernah salah, jadi menteri pada masa kurun waktu tersebut (padahal banyak yang Professor lho ?) tidak akan pernah memiliki keberanian (kenyataannya tak satupun kan ?) seperti pak “kwik” yang terkenal dan cerdas itu. Kultur jelek itupun menurun dari menteri ke dirjen, ke direktur, gubernur, bupati, camat. Disini perkataan Aung San Su Kyi (Burma) bahwa “not power that corrupts but fear” terbukti sudah, yang terbukti sebaliknya (berani) hanya “Bang Ali Sadikin” doang. Tidak heran kalau ada mantan menteri dan pejabat dibawahnya (dipengadilan) merasa tidak “korup”, karena bukankah yng dilakukannya itu juga dilakukan oleh pendahulunya bahkan sudah berjalan sepertiga abad ?

Tidaklah heran bahwa di swasta (apalagi di Pemerintah) tidak dibuat program pendampingan dalam arti pemberdayaan karyawan/ staff sebagaimana program “Mentoring & Coaching” di lembaga-lembaga dan perusahaan Multinational. Lagian program pelatihan semacam itu pada kenyataannya bukanlah suatu proyek yang bisa dikorup dan di mark-up dalam skala besar. Di sektor swasta pemiliknya tidak berorientasi jangka panjang (untuk apa training ? tidak menghasilkan apa-apa). Sedangkan fokus perhatian pejabat pemerintahan hanyalah “selamat” dan ikut bermain mengikuti arus di “arung-jeram” yang bernama korupsi itu.

Guru-guru yang baik (padahal disinilah sebenarnya jiwa bangsa itu terletak) dan memiliki kompetensi, tidak akan berani bersuara lantang menuntut ketidak adilan bagi korpsnya. Satu-satunya jalan adalah meninggalkan profesi mulia itu demi peningkatan kesejahteraan keluarganya. Buat apa program “Training of Trainer” dibuat kalau begitu ?

Sarjana-sarjana yang baru masuk ke dunia kerja menemukan bahwa di dunia baru itu tidak perlu kompetensi ( kondisi ini kira-kira hampir 100% di pemerintah , dan kira-kira lebih dari 50% di swasta), yang penting koneksi. Akhirnya yang pindah-pindah kerja sebenarnya yang banyak koneksi dan pintar berteman, bukan karena kompetensi. Yang tidak punya teman, ya harus menyiapkan uanglah.

Hebatnya selama 30 (tiga puluh) tahun itu 1967-1997 tidak ada keributan oleh angkatan kerja kita karena selalu ada penyerapan angkatan kerja (harusnya penyerapan angkatan kerja pada saat itu bisa 10 kalinya), kenapa ? Karena uangnya sebenarnya diperebutkan oleh “Konglomerat” nakal itu dan “Pejabat” nakal, dengan demikian terjadilah apa yang kata “ahli ekonomi” suatu disparitas pendapatan, bahkan senjang sekali.


Presiden populer, dapat point tapi tidak dapat coin

Kini, hari gini .. kita baru mau mulai bangkit ditahun 2007 (tahun 2006 ini belum terasa sama sekali), jadi setelah 30 tahun cuci otak, ditambah 10 tahun transisi berebut kekuasaan (maruk karena baru merdeka dinegeri sendiri).

Setelah 30 tahun terjadi pemberdayaan secara negatip, uangnyapun sudah diserap pejabat nakal dan konglomerat nakal, hari ini kita sudah kehabisan jiwa yang luhur serta kehabisan dana untuk berjuang. Bukankah BBM, TDL dan lain sebagainya hanyalah hilir dari ulah-ulah oknum-oknum yang dulu ikut bermain tanpa memperhatikan anak bangsa masa kini ?

Satu dua orang yang beritikad baik (saya yakin termasuk presiden) berusaha meluruskan kembali jalan kita sebagai bangsa, namun ditengah-tengah mayoritas pejabatnya sendiri serta cukup banyak masyarakat swasta yang juga sudah tercemar, butuh waktu untuk periode detoksifikasi dapat berjalan normal.

Kalaulah angkatan kerja saat ini terkorbankan karena ulah para petinggi, pejabat, dan konglomerat yang dulunya bercokol. Akankah Presiden dan wakilnya yang baik itu juga siap dengan tegas dapat mem PHK PNS yang dianggap tidak kompeten karena jumlah PNS memang sudah “overloaded” ? Persis seperti rasionalisasi pabrik-pabrik swasta itu ? Atau apakah pemerintah masih bersikap sebagai penampungan PNS yang sebagian besar (kalaupun tidak dikatakan semuanya) tidak kompeten itu ? Ingat juga bahwa kata-kata “kompetensi” itu ada di undang-undang tenaga kerja kita bukan ? Inilah saatnya bangsa Indonesia memiliki pemerintahan yang berkeadilan dalam artian sesungguhnya (EEO, equal employment opportunity).

Presiden kita sekarang adalah orang yang benar-benar dipilih rakyat, tapi sayang dia harus “leghowo” untuk hanya, sekali lagi hanya memperoleh “point” pahala untuk akhiratnya kelak, jangan berharap “coin” rupiah (apalagi dolar) kalau benar-benar ingin bangsa ini keluar dari kesulitan, itu kan bagian dari pemberdayaan, ya contohkan lah, termasuk DPR, Menteri-menteri dan khususnya pejabat-pejabat negara lainnya. Contoh tepat adalah upaya menggodok kenaikan tingkat pendapatan guru tanpa harus lebih dulu menaikkan tingkat pendapatan anggota DPR yang menggodok kenaikan tersebut, termasuk kenaikan gaji menteri pendidikannya.

Labels:


Sunday, February 05, 2006

 
(e) Resources Learning Program

(e)RLeaPro ataupun (e) Resources Learning Program adalah suatu rangkaian kegiatan dibidang pelatihan yang pada intinya memanfaatkan sumber-sumber dari (e)Net, yaitu jaringan internet secara global.

(e)RLeaPro pada umumnya terpaksa dilakukan apabila pelatih dihadapkan pada beberapa kondisi antara lain : 1)- Permintaan terjadi untuk tenggat waktu yang sangat sempit sehingga satu-satunya persiapan pelatih hanya dapat dilakukan dengan memanfaatkan komputer dan sambungan internet. ; 2)- Tempat pelatihan berada pada suatu tempat yang tidak dimungkinkannya pengumpulan data dan sumber-sumber latihan sebagaimana tersedia di kota-kota besar. ; 3)- Jenis pelatihan sama sekali baru dan tidak tersedianya sumber-sumber materi pelatihan sebagaimana biasanya ada di toko-toko buku besar. ; 4)- Kebutuhan akan sumber-sumber materi pelatihan dalam jumlah banyak yang tidak tercukupi dari sumber yang ada selama ini. ; 5)- Suatu jenis pelatihan yang sangat mobile dari suatu tempat ketempat lainnya (misalkan 1 hari pelatihan masing-masing di Aceh, Papua, Bandung, Banjarmasin, Bontang, Sekayu, Cilegon, Malang).

Dalam pelaksanaannya ada beberapa variasi aplikasi (e)RLeaPro ini antara lain adalah : 1)- (e)R-Preparation, dilakukan hanya untuk mengejar persiapan suatu pelatihan, lebih dari 60% bahan-bahan dan materi pelatihan bersumber dari internet dan disiapkan dalam bentuk CD dan ataupun cetakan biasa. ; 2)- (e)R-Facilitator, dimana pada saat pelatihan berlangsung facilitators dan ataupun trainer memanfaatkan sambungan internet secara online, tetap saja > 60% sumbernya dari internet. ; 3)- (e)-Audience, dilakukan apabila fasilitas kelas memadai dan seluruh peserta latih dapat dihubungkan secara online, ini adalah model yang paling ideal dari (e)RLeaPro ini, untuk modus ini harus dirancang > 90% sumbernya dari internet.

Semakin (e)RLeaPro ini mendekati 100% maka semakin dibutuhkan penguasaan bahasa inggris (minimum pasif) oleh para pesertanya, karena bagaimanapun juga sumber-sumber tersebut menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa pengantarnya.

Indonesia sebagai negara kepulauan sebenarnya haruslah memanfaatkan (e)RLeaPro ini sebanyak mungkin mengingat terpisahnya antara satu tempat dengan tempat lainnya secara cukup jauh dan tidak tersedianya sumber-sumber bacaan secara konvensional (toko buku dan perpustakaan) yang merata dan lengkap diseluruh kecamatan yang ada, namun praktis saat ini masing-masing kecamatan di Indonesia pastilah memiliki komputer dengan tingkatan tehnologi paling tidak setara Pentium-IV.

Para pelatih yang ingin mengembangkan kemampuan (e)RLeaPro ini paling tidak harus menguasai ataupun berusaha menguasai 1)- Kemampuan penggunaan komputer dan teknologi dokumentasi yang cukup baik (seperti MS-Word, PDF, Powerpoint) serta pemanfaatan tehnologi "search engine" 2)- Kemampuan membuat web , paling tidak pembuatan web sederhana dengan memanfaatkan free-webhosting 3)- Penguasaan terhadap materi ajaran yang akan dilatihkan dan 4)- Penguasaan perancangan pelatihan dikelas dengan bantuan komputer.

Labels:


Saturday, February 04, 2006

 
T3-4M (Train The Trainer for Millenium)

T3-4M adalah suatu tehnik pembelajaran yang menitik beratkan pada bagaimana caranya melaksanakan "Pelatihan untuk Pelatih" yang dapat dilakukan secara cepat dan tidak bertele-tele serta memasukkan upaya untuk menghilangkan "Sindroma Guru-Silat".

Apakah yang dimaksudkan dengan sindroma guru-silat tersebut ? Pada kebanyakan proses pembelajaran seperti yang diberikan oleh seorang guru silat kepada muridnya sering kali jika sang guru memiliki ilmu 10, sang murid pada gilirannya hanya menerima maksimum 7 atau 8 saja dari yang dimiliki sang guru.

Pada buku-buku (komik silat) seperti halnya karangan Kho Ping Hoo nyata sekali fenomena guru-silat tersebut selalu dijadikan upaya penghentian cerita oleh sang penulis. Pada saat seorang guru menurunkan 100% ilmu simpanannya kepada katakanlah 2 (dua) orang murid terbaiknya maka itu berarti tamat pulalah episode cerita sang guru tersebut, selanjutnya akan diteruskan dengan episode baru perihal sang murid baik dan jahat dimana sang murid jahat akhirnya membunuh sang guru yang pada gilirannya menjadi musuh besar sang murid baik dikalangan dunia "Kangouw".

Dalam kenyataannya baik dikalangan "Scholars", kalangan "Manajemen Pendidikan di Indonesia" maupun didunia "Occupational" dan "Workplace" seringkali kita lihat (perhatikan) tidak jarang (pada kenyataannya mencapai 90%) pelatihan-pelatihan TOT atau Training of Trainers hanyalah suatu upaya pertunjukan panggung biasa yang memberikan kesan dan impressi mendalam kepada participants hanya pada saat pelatihan tersebut berlangsung.

Kepiawaian seorang "Master-Trainer" pada saat berlangsungnya pelatihan, yaitu dengan mengambil bahan-bahan pelatihan dari berbagai sumber dan diberikan resumenya dan disajikan kepada participants pada dasarnya tidak memberikan peluang kepada peserta latih untuk mengeksplorasi lebih jauh sumber-sumber bacaan sebagaimana yang menjadi acuan Master-Trainer pada saat pelatihan berlangsung.

T34M sejatinya menghilangkan sindroma guru-silat tersebut hingga 90%, beberapa prekondisi yang diperlukan dalam melaksanakan T3-4M antara lain,
  1. Ruangan pelatihan yang terhubung dengan Internet
  2. Setiap peserta minimum haruslah memiliki email dan terbiasa dengan internet
  3. Pelatih (Master-Trainer) harus mempersiapkan > 70% bahan pelatihannya bersumber dari internet juga
  4. Pelatih haruslah menguasai internet secara baik, kalau bisa buat web sederhana akan lebih baik

Contoh rancangan T3-4M ini selama 1 (satu) hari saja bisa di lihat sebagaimana contoh berikut,

  1. Sessi 1 terdiri dari penjelasan tentang "cognitive style" MBTI, dan pemilihan metode ini ketimbang "Multiple Intelligence".
  2. Sessi 2 adalah self-assessment dan penjelasan lebih lanjut perihal style yang berbeda pada masing-masing peserta latih.
  3. Sessi 3 dilanjutkan dengan aplikasi "Style" yang berbeda tersebut pada "Learning-Style" dan "Learning-Method", khususnya pada konsep "adult-learning".
  4. Studi kasus, diskusi dan wrap-up.

Saya mengajak rekan-rekan yang memiliki visi yang sama perihal pemberdayaan ini (khususnya para trainer) untuk menyumbangkan ilmu dan kemampuannya untuk ikut dalam mengembangkan kemampuan rekan-rekan lainnya diluar sana untuk dapt meningkatkan diri mereka sehingga menjadi benar-benar "Professional" dibidangnya.

Saya dan rekan-rekan lainnya yang bersedia untuk memberikan pelatihan dikmaksud tentunya tidak akan dibayar, namun semua fasilitas / tempat dan peralatan yang diperlukan harus disediakan oleh calon peserta latih.

Untuk saat ini yang menjadi sasaran pelatihan antara lain adalah,

  1. Para guru, pendidik dan dosen (Jenjang D1 s/d D4 hingga S1).
  2. Alumni Fkip / IKIP dan yang setara dengannya.

Niat ini pada awalnya tergerak karena melihat begitu banyaknya permasalahan dan keluhan para guru, pendidik termasuk para alumni ex IKIP/ FKIP yang selalu berkeluh kesah perihal taraf hidup, dan penghargaan masyarakat terhadap kehidupan mereka.

Saya sendiri sampai saat ini merupakan salah satu orang yang pada dasarnya tidak setuju proses perubahan IKIP menjadi Universitas (katanya sih transformasi), tentu saja merupakan suatu kewajaran juga dimana ada saatnya terjadi kesepakatan untuk tidak bersepakat untuk suatu hal-hal tertentu didalam kehidupan ini.

Kami yang 90% kehidupannya merupakan "practitioners" ketimbang "Scholars" ataupun "Akademisi" seringkali secara tidak sadar memakai rumusan "AFTA" yaitu "action first, talk after" ketimbang "NATO" yang sudah banyak orang tau "no action talk only".

Tapi seringkali juga terjerumus kepada "action 1st think later" ketimbang "think 1st action later", dengan demikian forum ini menyadari kelemahan-kelemahan tersebut sangat membuka diri untuk bersama-sama memberikan sumbangan nya masing-masing dalam pemberdayaan manusia Indonesia sebaik-baiknya.

T3-4M merupakan bagian dari (e)RLeaPro yaitu (e) Resources Learning Program yang di rancang karena kebutuhan-kebutuhan mendesak, tempat terpencil, dan resources accessibilities yang baik.

Labels:


Friday, February 03, 2006

 
3P dan Prahalad

Belakangan ini nyata sekali terlihat dampak dekadensi moral dan perilaku bangsa dan masyarakat Indonesia yang sangat dipengaruhi faktor-faktor luar dirinya yang tidak bersifat membangun ("Outside-In" the way of thinking). Hampir semua apa yang ditampilkan media massa apapun tidak lagi disaring, langsung diadopsi begitu saja oleh masyarakat selama terlihat keren / top dan glamour.

Patut dipertimbangkan teorinya "Prahalad" sehubungan dengan "Core-Competence" yang lebih berorientasi Inside-Out, bayangkan .... suatu teori yang sebenarnya sudah dimiliki orang-orang Indonesia ini sejak jaman dahulu kala ternyata saat ini harus diadopsi kembali dari orang luar Indonesia. Kemana sih larinya seniman dan budayawan Indonesia yang katanya cinta Indonesia itu ? Apa yang mereka agung-agungkan itu sebenarnya sedang disodorkan dan disajikan kembali oleh Prahalad dalam bentuk teori manajemen moderen. Tapi enggak apalah selama hal itu baik dan benar (Halal lagi thoyyib).

Ada 3 (tiga) hal yang buat bangsa ini menjadi "bangsat" yaitu 3P diantaranya adalah 1> Banyak sekali orang (P)intar di Indonesia ini namun sayangnya hanya pintar dalam artian IQ nya saja, tidak disertai dengan "jiwa" yang bener, jadi pintar namun tanpa jiwa ( .. jadilah hackers contohnya, atau cyber crime lainnya termasuk para koruptor kelas atas yg menghabis dana BLBI) ; selanjutnya 2> Sayangnya sebahagian besar orang Indonesia juga (P)enakut, persis sebagaimana yang pernah diutarakan oleh Aung San Suu Kyii (Birma) bahwa paling tidak ada 2 (dua) yang ditakutkan itu antara lain takut kepada kekuasaan (dengan demikian membebek saja dan kesempatan ikut korup rame-rame karena memiliki atasan yang juga korup) serta takut utk tidak lagi memiliki kekuasaan (contohnya takut tdk lagi dapat menyekolahkan anaknya ke luar negeri, dll contohnya); terakhir dan yang benar-benar menjadikannya "bangsat" adalah (P)enyembah berhala dunia, dari mengidolakan dan menuhankan "Idol-idol" televisi hingga bentuk berhala lainnya seperti mobil-mobil mewah yang didapat dengan cara apapun (termasuk menyelundup) dan berjuta contoh yang dengan mudah disebutkan oleh anak kecil sekalipun.

Kembali lagi mengingat caican diatas tampaknya perlu dilakukan sosialisasi dan kampanye intensif terhadap para pejabat pemerintahan khususnya untuk memadukan konsepnya si Prahalad tersebut dengan salah satu isi UU tenaga kerja Indonesia yang menyatakan bahwa seseorang dibayar upahnya karena . .. salah satunya adalah berdasarkan "kompetensinya", sesuatu yang tidak selaras sama sekali dengan struktur gaji PNS yang intinya "masa kerja golongan" , ya ampuun.

Labels:


This page is powered by Blogger. Isn't yours?